Apa Bayi Bermimpi?

Wajah bayi ketika tidur bisa menjadi sangat ekspresif, dari sedikit tersenyum sampai mengerutkan dahi, juga mata yang terus berdenyut dan berkedut. Jadi apa yang sebenarnya terjadi selama bayi sedang tertidur, apakah bayi juga bermimpi atau tidak? Untuk memahami apakah bayi juga bermimpi atau tidak maka terlebih dahulu kita harus mengetahui sedikit tentang tahap-tahap tidur.

Tidur dibagi menjadi dua tahap, yaitu tidur aktif dan tidur tenang. Tidur aktif ditandai dengan gerakan cepat bola mata dan juga dikenal sebagai tidur REM (Rapid Eye Movement). Bermimpi akan terjadi selama tahap tidur ini. Sedangkan tidur non-REM, yang bisa juga disebut dengan tidur tenang, terdiri dari empat fase yaitu mengantuk, tidur ringan, tidur nyenyak dan tidur yang sangat dalam. Pola tidur bayi yang baru lahir dimulai dengan tahap REM singkat, yang selanjutnya akan menuju empat tahapan tidur tenang, dan kembali ke tidur REM lagi untuk memulai seluruh siklus lagi dari awal.

Fungsi yang tepat dari tidur REM sendiri masih dalam perdebatan, tapi semua peneliti mengakui pentingnya tidur REM ini. Teori menyatakan bahwa tidur REM membantu perkembangan otak, bahkan juga turut mempengaruhi bayi di dalam rahim. Para peneliti percaya bahwa tidur REM dengan citra visualnya akan membantu perkembangan mental pada janin.

Teori ini didukung oleh penelitian lebih lanjut yang menunjukkan bahwa semakin meningkat usia seseorang, maka semakin kurang ia memerlukan tidur REM. Janin memiliki sekitar 100% tidur REM, bayi baru lahir mendapati sekitar 50%, bayi berusia 2 tahun membutuhkan 25%, orang dewasa menjumpainya sekitar 20% dan orang tua mengalaminya hanya sekitar 15% dari tidur mereka. Dengan kata lain, tubuh memberikan bayi tidur REM yang lebih banyak karena dibutuhkan bagi perkembangan otak bayi yang cepat. Dan ketika perkembangan otak melambat, presentase tidur REM pun akan berkurang.

Para peneliti tahu bahwa anak-anak dan orang dewasa memiliki mimpi yang nyata selama tidur REM. Sementara beberapa penelitian menunjukkan bahwa hal tersebut mungkin tidak berlaku bagi bayi yang baru lahir. Menurut sebuah penelitian di Australia, bagian otak yang aktif selama tidur REM orang dewasa adalah bagian otak yang tidak aktif selama tidur REM bayi yang baru lahir.

Namun karena bayi memiliki sejumlah besar tidur REM, kebanyakan orang memilih untuk percaya bahwa mereka juga bermimpi, seperti orang dewasa. Sebagian orang berpendapat bahwa bayi dalam rahim bermimpi tentang cahaya yang mereka lihat dan suara yang mereka dengar, detak jantung, suara dan musik. Setelah mereka lahir impian mereka yang mungkin dipengaruhi oleh berbagai rangsangan sensorik yang mereka hadapi.

Bayi menghabiskan lebih banyak waktu dalam tidur REM, dan sampai sekitar tiga bulan, harus melewati fase REM sebelum masuk tidur tenang. Dengan jumlah yang lebih besar dari tidur REM maka akan lebih banyak kesempatan bahwa bayi akan terbangun dari tidur mereka sepanjang malam ketika mereka berpindah antara tahapan tidur. Jadi hal inilah yang menjadi alasan mengapa bayi yang baru lahir yang sering terbangun di malam hari.

Penelitian menunjukkan bahwa “mimpi buruk” terjadi paling sering antara usia tiga sampai lima tahun. Namun banyak peneliti yang percaya bahwa bayi juga dapat memiliki mimpi buruk. Bayi bisa mendapatkan stress dari rasa sakit, kelaparan dan ditinggal sendirian. Mereka percaya bahwa otak bayi sudah dapat membedakan hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam kehidupan mereka melalui mimpi.

sumber: lifeslittlemysteries.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *