Suiseki Yang Makin Langka

"suiseki"Sekali pun hanya masuk kelompok best, pilihan juri untuk suiseki Sonny Tandiono yang berjudul Lucky Number telah membuat Sonny puas. Batu yang mirip angka “8″ atau bisa juga berbentuk gua dua susun itu baru sebulan didapatkannya lewat penjual batu di Padang.

“Sebenarnya masih ada ratusan batu suiseki yang berkualitas juga di rumah. Cuma, suiseki saya kalo masuk bintang gak akan saya keluarkan lagi (di pameran). Lebih baik cari batu yang lain, kita kasih kesempatan bagi peserta dengan batu yang baru,” ujar Sonny

Untuk berburu suiseki memang gampang-gampang susah. Dunia perbatuan yang berkembang seiring dengan bonsai ini punya aturan main sendiri. Batunya harus alami, tak boleh dipahat, harus polesan alam alias yang melakukan adalah air sungai selama beratus bahkan ribuan tahun. Nah, aturan main itu memunculkan berbagai cerita

Mulai dari petani (pencari batu suiseki-red) yang diam-diam memahat, atau menambah pahatan di batu temuan sehingga kolektor kontan batal membeli. Ada juga petani yang menelepon dari Padang, di foto batu terlihat unik dan khas, sehingga dia yang berada di Jakarta pun bergegas datang ke lokasi. Saat dilihat ternyata batu kapur. “Batunya bagus, tapi bukan batu hitam. Saya malah bisa menggoresnya, pokoknya itu batu empuk banget,” ujar Sonny yang akhirnya batal membeli batu itu.

Batu granit atau batu yang berwarna hitam pun jadi idola. “Makin keras sebuah batu, kan makin sulit pembentukannya di alam, sehingga lebih kita hargai. Jadi, value (nilai)nya adalah pada tingkat kekerasan. Granit dan batu hitam itu sampai 9 mos, kalau batu kapur yang sudah menua, tingkat kekerasannya paling 7-8 mos,” ujar Sonny.

Untuk para petani suiseki yang suka menggunakan goresan biasanya lambat-laun tak dipercayai lagi oleh kolektor. Tindakan kolektor yang mengutak-atik batu temuannya dengan goresan adalah virus -penyakit – bagi Sonny. Karena, hal itu dapat merusak bursa sekaligus filosofi dari suiseki itu sendiri. “Hanya, dengan kaca pembesar dan diperhatikan detail, ulah itu dapat diketahui. Mana yang dipahat, mana yang orisinal dihasilkan oleh alam,” ujarnya.

Sonny yang sudah enam tahun menikmati dunia suiseki dan sempat berhenti bekerja di bidang lain tahun 2004-2005 karena hanya mau di usaha perbatuan suiseki, punya kisah unik yang lain. Waktu itu didapatkan batu besar yang diperkirakan untuk mengangkatnya sesuai dengan kocek yang dia miliki. Ternyata, si petani atau penduduk setempat salah perhitungan. Batu tak terangkat dan uang pun amblas. Inilah salah satu resiko buat penggemar batu suiseki.

Di sekitar itu, hanya hutan dan sungai sehingga mustahil diangkat dengan alat berat, jadi harus dengan tenaga manual, alat manual, juga biaya lumayan besar yang menguras kantong kolektor suiseki. “Waktu itu, batunya berhasil diangkat oleh orang asal Korea. Sejak dulu, orang Jepang, paling banyak orang Korea udah menjelajah hingga ke Padang, Pontianak dan Aceh,” ujarnya.

Selama ini, wilayah berburu suiseki adalah Sumatera Barat, Sumatera Selatan,di Jawa Barat dari Pandeglang, Ciniru, Jonggol, Cisadane hingga Cibadak. “Pokoknya batu di kali yang arusnya besar dan masih alami. Arusnya deras. Proses batu itu kan digelundungkan oleh air, dipoles ratusan atau ribuan tahun,” ujarnya, sambil menambahkan bahwa batu di Merapi tak bagus karena akan terlihat goresan dan cakaran.

Dunia Imajinasi

Bicara soal bentuk, yang dicari untuk suiseki pun bermacam-macam dari batu bergambar di permukaan batunya, bentuk batu menyerupai figur binatang atau benda apa pun juga batu yang mengarah ke panorama alam mulai dari gunung, lembah hingga bukit. “Biasanya bentuk panorama akan disukai penggemar suiseki yang usia limapuluhtahunan karena menekankan ketenangan,” ujarnya.

sumber: majalah agribisnis

 

Diposkan di kategori Sejarah

suiseki indonesia, batu suiseki indonesia, pameran suiseki, batu suiseki termahal, cara merawat suiseki, BATU SUESEKI, batu suseki, tingkat kekerasan batu granit, foto batu suiseki, berburu suiseki

Comments on this entry are closed.